Setelah membaca buku The Fault in Our Stars oleh John Green

This will be my first update totally in Indonesian. I don’t know why but in this particular subject I want to. Also it has nothing to do with Indonesia.
Sudah lama buku ini ada dalam daftar wajib baca saya. Karena sepertinya buku ini dalam kategori yang sama dengan The Perks of Being of Wallflower oleh Chobosky dan tentunya dengan Finding Alaska oleh John Green juga, buku buku yang mengandung pemikiran philosophy modern.

Namun ketika kira -kira setahun yang lalu saya baca halaman pertama “Whenever you read books about cancer…” Saya tak bisa meneruskan baca. karena pada saat itu seseorang yang saya anggap ibu angkat saya di Inggris baru saja didiagnosa kena penyakit Kanker. Dokter pada saat itu memberikan waktunya bertahan paling lama 2 tahun. Ada harapan tapinya, kalau di kemoterapi dan lalu dioperasi. Setelah kemoterapi dan operasi, kami mendapatkan harapan kalau dia akan membaik karena dokter bilang sudah hilang dan sudah diangkat. Dia membaik dan dokter bilang tunggu 6 bulan untuk diperiksa kembali untuk memastikan kanker itu hilang.

2 bulan setelah operasi ada sesuatu yang membuat dia tidak bisa makan lagi, lalu kami paksa dokter untuk periksa dia lebih cepat dari direncanakan. Hasilnya? Kankernya malah menyebar, relapse, klo di kemo juga cuman beli waktu beberapa minggu. Sementara dia lebih tersiksa, lebih gak bisa makan kalau dikemo, jadi dia ambil keputusan tidak mau dikemo, yah akhirnya kami hanya bisa menunggu dia pergi. Minggu – minggu terakhir kami bertanya ada yang dia ingin lakukan sebelum dia pergi, jawabannya ” makan lasagna” simple. Bukan mau bungee jumping, atau liat grand Canyon, atau berenang dengan ikan hiu, dia mau makan lasagna yang enak.

Pada saat itu saya bertanya dalam hati, kenapa kok dia cuman maunya itu, dan saya nggak bisa mengerti. Pada saat yang sama saya juga bertanya apa yang saya lakukan kalau itu saya? Yang pasti saya ingin ke tempat2 yang ada di daftar wajib kunjung saya. Lalu pikiran saya pindah ke “ya ampun kalau saya dalam posisi itu saya pasti berasa belum melakukan apa2, hal- hal yang hebat atau baik bagi umat manusia” etc etc

Hampir 6 bulan setelah ibu saya itu meninggal, saya menguatkan diri membaca buku karya John Green ini. Di pesawat pulang dari Venice.Setelah 6 halaman pertama saya sadar bukanlah pilihan tempat dan waktu saya yang paling pintar. Karena saya mulai menangis.

Buku yang bagus buat saya adalah buku yang membuat saya berfikir berhari-hari setelah membaca, atau buku yang buat saya mau baca ulang. Buku ini adalah salah satu buku yang membuat saya melakukan kedua hal diatas.

Cerita tentang cewek umur 16 tahun yang punya kanker paru-paru, ketemu cowok yang sembuh dari kanker setelah kakinya diamputasi. Percakapan mereka dan hubungan mereka banyak terpengaruh oleh buku favourite si cewek.Saya tidak mau memberikan cerita keseluruhannya, tapi yang pasti buku ini sangat menyentuh, namun saya anjurkan bacanya dalam bahasa Inggris. Terkadang sentimen-sentimen philosophy penting bisa hilang dalam buku yang diterjemahkan.

20140316-202401.jpg

Buku ini semacam jawaban separuh dari pertanyaan saya mengenai kematian dan mengenai sikap ibu saya itu menjelang kematiannya. Bukan jawaban akan apa yang terjadi setelah kematian, tapi ketakutan, ketakutan soal kematian. Gelap? Yup.

Ini beberapa kutipan dari buku ini.

“You say you are not special just because the world doesn’t know about you, but that is an insult to me because I know about you”

“There are infinite numbers between 0 and 1. There’s .1 and .12 and .112 and an infinite collection of others. Of course, there is a bigger infinite set of numbers between 0 and 2, or between 0 and a million. Some infinities are bigger than other infinities. … my love, I cannot tell you how thankful I am for our little infinity. I wouldn’t trade it for the world. You gave me a forever within the numbered days, and I’m grateful.”

… so you will not cry, and you say all of this to yourself while looking up at the ceiling, and then you swallow even though your throat does not want to close and you look at the person who loves you and smile.”

Setelah membaca buku ini saya merasa ingin menulis tentang buku ini dan tentang pengalaman saya mainly untuk saya sendiri.

Terkadang saya masih lupa kalau ibu saya itu sudah meninggal, waktu saya mengunjungi burano, secara tak sadar beli postcard buat dia karena dia seperti saya suka warna. Terkadang saya merasa bersalah karena sepertinya saya kurang sedih. Tapi seperti dibuku ini bilang, as long as one of us is alive the relationship/sentiment will not be lost.